Buletin At-Taqwa

Orang Tuanya Manusia

Posted on 2017-06-08 07:55:29 GMT by Admin

 

Judul                 : Orang Tuanya Manusia

                         (Melejitkan potensi dan kecerdasan dengan menghargai fitrah setiap anak )

Penulis            : Munif Chatib

Penerbit           : Kaifa, PT Mizan Pustaka Bandung

Cetakan           : Cetakan 1, Mei 2015

Tebal              : 211 halaman

            Jangan takut jadi orang tua, Allah sudah memilih kita menjadi orang tua merupakan suatu yang luar biasa yang harus kita syukuri. Kita diberikan pengalaman yang berbeda atas hadirnya anak dalam hidup ini. Anak adalah amanah dari Allah SWT dan kita sudah terpilih menjadi orang tuanya. Tugas kita sebenarnya sederhana yaitu menerima dengan ikhlas dan mendidiknya dengan berbagai cara yang sudah jelas cara-cara tersebut sudah Allah tunjukkan di Al-Quran melalui Rosullulah. Untuk menyelesaikan tugas sederhana itu salah satunya dilalui di pendidikan anak kita. Pendidikan yang bagaimana? Yaitu pendidikan dari diri kita sebagai orang tua dan pendidikan formal dari sekolah. Kedua kerjasama tersebut sangat berperan dalam hasil pendidikan anak kita.

            Orang tua adalah konsumen pendidikan yang penting selain siswa disekolah. Jika paradigm orang tua tidak sama dengan paradigm di sekolah biasanya banyak konflik antara keduanya dan anaklah yang menjadi korban. Kalau kita percaya bahwa ada harta karun dalam diri anak kita. Kita harus menjadi penyelam untuk menemukannya tak peduli kedalaman samudera yang terdalam, tak peduli gelapnya lautan yang tergelap.

            Lewat buku ringan praktis ini penulis ingin membantu mensukseskan pendidikan anak-anaknya. Banyak cara yang ditawarkan dalam buku ini seperti siapa anak kita?, pilih sekolanya manusia bukan sekolahnya robot, ingin hidup berapa lama bersama anak kita, dan berbagai tips dan trik untuk anak. Buku gurunya manusia ini memberikan wawasan baru yang mengubah paradigma orang tua bahwa anak itu cerdas, setiap anak berpotensi, setiap anak adalah bintang dan tidak ada produk Allah yang gagal. Pratiwi septi